Blog ini ditujukan untuk menampung tulisan-tulisan yang saya hasilkan secara instan. Sebagian sudah dimuat di akun Facebook saya dan sebagian lainnya tidak.

Saya menulis berbagai tema. Apa pun. Itu karena saya bukan pakar di suatu bidang tertentu. Saya menulis hanya sesuai keinginan dan lebih sering urusan remeh-temeh.

recent posts

Menunggu Internet Rakyat


Saat diluncurkan akhir tahun lalu, Internet Rakyat (IRA) langsung menyita perhatian. Followers akun instagramnya naik drastis. Banyak orang tertarik. Alasannya tentu saja karena iming-iming kecepatan yang tinggi dengan harga yang murah. Cukup Rp. 100rb untuk kecepatan internet hingga 100 Mbps.

Promosi harga yang jauh di bawah harga pasaran, membuat ekspektasi orang menjadi sangat tinggi. Ditambah lagi dengan pemberitaan yang menyatakan bahwa harga paket internet di Indonesia termasuk yang termahal di Asia Tenggara.

Dengan ekspektasi setinggi itu, banyak orang lupa beberapa hal penting, salah satunya adalah infrastruktur yang belum ada.

Entah ini bagian dari strategi bisnis atau bagaimana, tapi bagi saya sebagai calon konsumen, strategi ini tidak enak. Yang terjadi selama ini, promosi oleh provider lain biasanya dilakukan setelah infrastrukturnya dibangun. Orbit dan Hifi Air produknya ada dulu, baru jualan. Nah, IRA ini beda, promosi dulu, baru bangun infrastruktur. Orang disuruh registrasi, lalu nunggu instalasi selesai.

Bagi sebagian besar orang, ini mengecewakan karena setelah mendaftar, mereka masih harus menunggu infrastruktur dibangun. Memang proses instalasi dijadwalkan rampung pada bulan Juni, tapi kita tak pernah tahu apakah di bulan tersebut semua daerah di Jawa akan tercover.

Persoalan lainnya adalah keluhan dari pelanggan yang sudah pasang. Sebagian mengeluhkan koneksi yang terkesan lambat dan terkadang trobel.

Hal begitu sebenarnya wajar karena IRA itu wireless. Koneksinya pakai sinyal ke tower. Persis internet seluler. Siapa yang dekat dengan tower dan minim interferensi, maka dia akan mendapatkan sinyal paling bagus.

Selain itu, IRA masih baru. Teknologinya juga tidak persis sama dengan internet seluler karena frekuensi yang dipakai beda. Jadi, butuh penyesuaian. Apalagi, Surge sebagai induk perusahaan IRA, yang saya tahu, baru pertamakali terjun ke internet berbasis tower. Sebelum-sebelumnya mereka fokus di fiber optik.

Sampai saat ini, saya sendiri masih terus menunggu IRA hadir di tempat saya. Entah kapan itu terjadi, mengingat daerah saya sangat pelosok. Yang saya baca, sebagian besar daerah yang sudah tercover merupakan kawasan dekat rel kereta api. Surge memang bekerjasama dengan KAI untuk menyalurkan kabel fiber optiknya. Sayangnya, di Madura tidak ada jalur kereta api.

Kenapa saya lebih menunggu IRA ketimbang memasang internet dari RT/RW net yang sudah menjamur begitu rupa? Selain karena promosi harga di atas, saya merasa bahwa internet seluler lebih stabil dan minim gangguan. Latensinya memang tinggi, namun bagi saya itu tidak menjadi soal. Saya bukan pemain game. Jadi, tidak terlalu berpengaruh.

Saat ini, saya menggunakan paket Hifi Air dari Indosat. Kebetulan, sinyal Indosat di tempat saya lumayan bagus. Speed internetnya berkisar 60-70-an Mbps. Itu sudah cukup cepat untuk kebutuhan saya. Sayangnya, harganya masih cukup tinggi dan tidak ada paket unlimited.

Selama menggunakan Hifi Air, saya tidak pernah mengalami internet down. Beda dengan internet RT/RW net yang banyak digunakan tetangga saya. Terkadang down cukup lama dan tidak segera ditangani. Kejadian down paling sering saat musim hujan dan angin kencang karena kabelnya sering putus. Maklum, di pedesaan masih banyak pohon.

Selain itu, speed internet RT/RW net kadang tiba-tiba melambat entah kenapa. Mungkin karena banyak yang pakai dan manajemen trafiknya tidak terkontrol dengan baik. Padahal, harganya tidak bisa dibilang murah. 15 Mbps seharga Rp. 150rb.

Atas pertimbangan itulah, sampai saat ini saya belum berlangganan internet kabel. Saya masih menunggu IRA. Tapi, kalau nanti belum juga hadir, mungkin saya bisa berpindah haluan.

Lenteng, 3 Mei 2026

Komentar

Tinggalkan Komentar