Seorang influencer memposting konten-konten kontroversial di akunnya. Lalu, ada beberapa pengikutnya yang protes, menyanggah narasi konten tersebut. Sebagian menggunakan kalimat santun dan berbobot, sebagian lainnya menggunakan bahasa kasar.
Sang influencer lalu men-screenshot dan memposting komentar kasar tersebut. Lalu, banjirlah komentar-komentar tak kalah kasarnya, mengujat si komentator, sampai akunnya digembok. Ia babak belur dihajar pengikut si influencer.
Kejadian seperti ini bukan sekali dua kali saya temui. Bahkan seakan sudah menjadi tabiat influencer Indonesia. Apa kira-kira tujuan mereka melakukan itu?
Menurut saya, ada beberapa tujuannya. Pertama, tentu saja agar dihujat oleh pengikut si influencer. Membunuh karakternya. Menyorongkan sumpah serapah ke akunnya agar si pengkritik merasa malu atau bahkan takut.
Kedua, membangun narasi satu arah bahwa potret pengkritik kontennya adalah seperti itu: cacat logika, kasar, emosional, dan temperamental. Narasi demikian tentu saja mengubur kritik yang lebih berbobot dari akun lain. Padahal, harusnya kritik seperti ini yang dimunculkan, seandainya si influencer memang mau berdiskusi dan terbuka terhadap kritik.
Ketiga, ingin mengukuhkan bahwa argumen yang dibawa oleh si influencer dalam kontennya adalah yang benar. Pengkritiknya salah. Tuh, lihat buktinya, mereka cuma bisa menghujat kan? Secara tidak langsung, begitulah yang ingin ditunjukkan.
Saya tidak sedang membela pengkritik yang kasar itu. Saya justru menolaknya. Tapi, namanya media sosial, orang-orang tolol seperti itu di mana-mana akan selalu ada. Masalahnya, kalau memang komentar tidak berbobot, kenapa si influencer memberi ruang? Kenapa justru komentar-komentar kritisnya dikubur? Harusnya komentar negatif itu dibiarkan saja, tak perlu dihiraukan.

Komentar
Tinggalkan Komentar