![]() |
| Sumber: @veda-54 |
Debut Veda Ega Pratama di balapan Moto3 kemarin benar-benar memukau. Seri pembuka di Thailand tersebut menjadi catatan penting karena ia adalah rookie satu-satunya yang bertarung di lima besar.
Sejak awal, balapan sudah berlangsung seru. Di kelompok depan, Maximo Quiles bertarung sengit dengan David Almansa. Berkali-kali mereka bertukar posisi. Sementara, di kelompok belakangnya aksi serupa dilakukan oleh Valentin Perrone, Alvaro Carpe, Veda Pratama, dan Adrian Fernandez. Empat pembalap tersebut berjuang untuk mengamankan posisi ketiga.
Veda sempat beberapa kali di posisi ketiga, tapi segera diganti oleh tiga pembalap lainnya secara bergantian. Aksi tersebut berlangsung bahkan hingga akhir balapan yang mengunci posisi Veda di urutan kelima. Konon, ini adalah capaian terbaik debut rookie asal Indonesia, setelah hasil terbaik diperoleh Gerry Salim di posisi ke-16 GP Italia tahun 2019 lalu.
Veda adalah pembalap muda berbakat. Remaja kelahiran Gunung Kidul ini berprestasi sejak kecil. Pernah diundang Deddy Corbuzier di acara Hitam Putih pada tahun 2019. Saat itu, penyuka balap mungkin belum banyak mengenalnya. Wajar, umurnya baru 10 tahun. Ia masih terbata-bata menjawab pertanyaan Om Botak waktu itu.
Namun, namanya kian bersinar setelah ia menjadi juara Asia Talent Cup (ATC, sekarang Moto4 Asia Cup) tahun 2023. Di ajang ini, ia harus bertarung melawan pembalap-pembalap muda berbakat dari sejumlah negara di Asia, seperti Jepang, Malaysia, Thailand, dan termasuk Australia.
Selepas ATC, Veda hijrah ke balapan Eropa. Ia mengikuti RedBull Rookies Cup (RBRC) dan JuniorGP. Dua balapan ini sebagai transisi untuk masuk ke jenjang Moto3 sekaligus penjajakan skill pembalap-pembalap Eropa yang langganan menghasilkan juara dunia. Sebenarnya, ada seri di bawahnya lagi yang bisa diikuti, seperti yang dilakukan oleh Kiandra Ramadhipa, yaitu Europran Talent Cup (ETC), tapi itu tidak terlalu penting karena Veda sudah juara ATC.
Di Junior GP, klasemen akhir Veda tidak terlalu menarik, yaitu di posisi ke-10. Raihan ini sempat membuat pesimis para fans karena motor yang dipakai berasal dari pabrikan yang sama dengan yang akan digunakannya di Moto3 nanti, yaitu Honda. Namun, pesimisme itu terkikis saat Taiyo Furusato, senior Veda yang kini naik ke Moto2, justru beberapa kali bertarung di lini depan, bahkan sampai berhasil podium.
Raihan terbaik justru dari ajang RBRC, di mana ia berhasil menjadi runner-up. Veda bahkan menyingkirkan juara ATC sebelumnya, yaitu Hakim Danish, pembalap muda Malaysia, yang sudah masuk lebih dulu di RBRC. Hakim sebenarnya di awal cukup punya potensi untuk juara, namun beberapa balapan belakangan, perfomanya menurun. Hasil akhir klasemen menempatkan Brian Uriarte, Veda Pratama, dan Hakim Danish, sebagai juara RBRC 2025.
Prestasi sebagai runner-up RBRC ini membuat tiket ke Moto3 terbuka lebar. Sejatinya, untuk saat ini, umur Veda belum masuk karena saat seri akan dimulai, umurnya masih 17 tahun. Regulasi mengatur bahwa umur terendah harus 18 tahun. Untungnya ada pengecualian, yaitu tiga besar RBRC punya golden ticket alias tidak perlu mengikuti aturan batasan umur tersebut.
Langkah Veda masih panjang. Moto3 baru pembukaan. Kita tunggu kejutan-kejutan di balapan selanjutnya. Semoga terus bersinar.
Lenteng, 2 Maret 2026

Komentar
Tinggalkan Komentar