Blog ini ditujukan untuk menampung tulisan-tulisan yang saya hasilkan secara instan. Sebagian sudah dimuat di akun Facebook saya dan sebagian lainnya tidak.

Saya menulis berbagai tema. Apa pun. Itu karena saya bukan pakar di suatu bidang tertentu. Saya menulis hanya sesuai keinginan dan lebih sering urusan remeh-temeh.

recent posts

Valen

Sumber: Indosiar
Beberapa minggu terakhir, beranda saya dipenuhi oleh nama Valen, salah satu kontestan Dangdut Academy (DA) 7 Indosiar, asal Pamekasan. Namanya sering disebut-sebut oleh penggemarnya dan dijagokan sebagai pemenang. Namun, barusan saya berpapasan dengan postingan yang disorongkan oleh algoritma Facebook bahwa ia jadi runner-up. Mungkin semalam adalah babak finalnya karena postingan tersebut baru diupload 6 jam yang lalu oleh akun Indosiar.

Terus terang, saya tidak mengikuti perkembangan kontes ini. Bahkan, sampai tulisan ini dibuat, saya belum nonton satu pun video Valen. Alasannya simpel, kurang tertarik dengan kontes ini. Pengetahuan saya hanya berdasar sekelumit postingan dari akun-akun di media sosial Facebook dan TikTok.

Euforia kali ini mengingatkan saya pada suasana yang sama 10 tahun lalu (2015), saat Irwan Krisdiyanto mengikuti kontes DA 2 dan berhasil keluar sebagai juara 3. Bedanya, dulu saya aktif berkomentar, sekarang saya merasa nggak terlalu penting lagi.

Dulu, saya cukup keras (bahkan karena saking kerasnya ada teman Facebook yang tersinggung 😃) mengkritik tentang mekanisme penentuan lolos tidaknya peserta ke babak selanjutnya lewat polling SMS. Sistem ini penuh tanda tanya. Bagaimana bisa kontes suara diukur dari banyaknya SMS yang masuk. Jika alasannya voting dari penggemar, mengapa satu nomor bisa mengirim banyak SMS dukungan? Seandainya satu nomor hanya satu SMS, mungkin ini masih bisa diterima, bisa dikategorikan sebagai "one person, one vote". Walaupun, tentu saja, sistem seperti ini tetap bisa dimanipulasi. Tapi, toh lebih masuk akal ketimbang tidak ada pembatasan sama sekali.

Belum lagi soal transparansi hasil polling. Memang angkanya ditampilkan di layar televisi dalam bentuk persentase. Namun, siapa penonton yang bisa menjamin itu seratus persen riil? Tak ada, karena kita tidak diberitahu rinciannya. Pengirim SMS tidak pernah tahu bahwa SMS dukungannya benar-benar masuk dalam angka persentase tersebut.

Indosiar memang cukup lihai meraup untung dari sistem seperti ini. Kombinasinya cukup apik, hiburan dan sentimen kedaerahan. Ketika dua kutub ini dipertemukan, maka lahirlah bisnis yang menggiurkan.

Kontestan diplot sebagai "local hero" bagi daerahnya masing-masing. Lihat saja penyematan nama daerah di belakang nama mereka. Itu bukan gaya-gayaan, tetapi pemantik sisi emosional orang-orang yang sedaerah dengannya. Mereka akan merasa bahwa si kontestan mewakili daerahnya sehingga harus didukung bersama-sama. Tak jadi soal walaupun sistemnya tidak masuk akal, yang penting dukung terus sampai menjadi juara.

Saya tidak tahu apakah sistem tersebut tetap dipertahankan hingga di era Valen ini. Kalau tetap sama atau mirip, sangat disayangkan. Sebab, kontes menyanyi seharusnya dipilih oleh juri, bukan oleh penggemar yang hanya mengandalkan uang dan sentimen kedaerahan. Ingat, ini kontes menyanyi, bukan ajang lelang.


Sabtu, 27 Desember 2025

Komentar

Tinggalkan Komentar