Tepat hari ini, saya bisa menyelesaikan tantangan menulis 30 hari. Saya memulainya pada 16 Oktober 2025 lalu dan berakhir hari ini, 16 November 2025.
Mulanya, kegiatan ini hanya iseng-iseng untuk mengisi blog yang saya buat di STB rongsokan kala itu. Karena baru dibikin, blog ini tentu butuh banyak postingan biar tidak kosong. Akhirnya, saya mencoba menulis beberapa topik pembicaraan yang sedang hangat saat itu, salah satunya soal kasus Trans7 vs Lirboyo.
Di tahap awal, dalam sehari saya bisa mengisi dua tulisan. Tujuannya agar blog cepat terisi. Namun, kemudian saya berpikir kalau tujuannya cuma begitu, tidak ada nilai lebihnya. Kenapa tidak sehari menulis sepuluh artikel saja biar tujuannya bisa segera tercapai? Toh sekarang zaman akal imitasi (AI). Sepuluh artikel itu urusan gampang sekali. Apalagi cuma beberapa paragraf.
Tapi, saya tidak mau begitu. Saya tidak boleh tergantung kepada AI. Ini blog pribadi. Tulisannya harus murni dari saya sendiri. Apalagi, untuk hal tulis-menulis, saya sebisa mungkin menghindari AI, kecuali hanya untuk bertanya hal-hal kecil yang saya ragu terhadapnya.
Di kepala saya, lalu muncul ide tantangan menulis 30 hari. Tantangan seperti ini bukan hal baru. Sudah banyak orang melakukannya. Bahkan pernah menjadi kampanye sebuah akun di Instagram, dan dikuti oleh sejumlah orang. Seorang teman mengikuti, tapi hasilnya bolong-bolong.
Konsep tantangan seperti ini sebenarnya sudah pernah saya lakukan, dulu, waktu masih di pondok. Tapi, sayang sekali, saya tidak berhasil menaklukkannya. Tidak sampai sebulan saya keok dan memilih angkat bendera putih. Itu pula yang membuat keraguan di benak saya pada tantangan kali ini.
Tapi, saya harus mencoba. Jika gagal, itu urusan nanti.
Saya lalu membuat aturan dalam tantangan ini. Pertama, tulisan minimal lima paragraf. Memang ini pendek, tapi ketika dijalani ternyata kadang juga merepotkan. Kalau tubuh dan pikiran dalam keadaan segar, lima paragraf itu urusan kecil. Tapi kalau sedang sakit seperti yang saya alami beberapa hari lalu, sungguh ini tantangan luar biasa. Di saat tubuh sedang demam dan diare, kepala dipaksa menyusun kalimat demi kalimat. Sungguh menyiksa. Untungnya saya bisa melewati itu dengan tetap menulis.
Kedua, tulisan tidak boleh dihasilkan oleh AI. Semua yang saya tulis selama sebulan ini adalah tulisan sendiri. Makanya, ketika saya baca ulang, banyak sekali dijumpai kesalahan tanda baca dan penulisan. Ya, wajarlah karena sebelum upload saya tidak banyak melakukan penyuntingan. Sudah capek duluan. Rencananya, sehabis tantangan ini saya akan coba memperbaikinya. Mudah-mudahan ada mood.
Ketiga, tidak boleh menabung tulisan. Contohnya begini, hari ini menulis dua tulisan untuk persediaan besok. Atau, menulis tiga tulisan untuk tiga hari ke depan. Itu tidak boleh. Menulis berapa pun banyaknya, satu hari tetap terbilang satu tulisan. Kenapa begitu? Karena ini untuk menguji konsistensi. Artinya, setiap hari harus tetap menulis. Jika bisa menabung tulisan, maka sehari saya bisa menulis sepuluh artikel, lalu berleha-leha tidak menulis sampai sepuluh hari ke depan. Kalau sudah begitu, maka semangat konsistensinya menjadi tidak ada. Percuma. Padahal ini yang paling penting.
Nah, semua aturan itu berhasil saya ikuti. Hingga hari ini, saya sudah menghasilkan setidaknya 34 tulisan karena dalam sehari saya pernah menulis dua kali. Setelah ini, apakah saya akan melanjutkan? Entahlah, yang jelas saya merasa harus rehat sejenak.
Jaddung, 16 November 2025

Komentar
Tinggalkan Komentar