Beberapa hari terakhir ini, jagat maya ribut soal penganugerahan pahlawan kepada Soeharto. Mantan Presiden yang berkuasa 32 tahun itu disebut-sebut tidak layak untuk dianugerahi gelar pahlawan. Dosanya terlalu banyak.
Secara pribadi, saya tidak setuju Soeharto mendapatkan gelar pahlawan. Namun, saya tidak mau masuk ke dalam perdebatan soal itu. Ada hal lain yang lebih ingin saya ungkapkan, yaitu tentang acara penghargaan-penghargaan seperti ini.
Sejak rezim Jokowi, terutama di periode kedua, penghargaan-penghargaan dari negara seperti kehilangan kharisma. Berbagai penghargaan diobral ke sejumlah orang yang sebagian menimbulkan tanda tanya publik. Bahkan yang lucu, tak sampai dua bulan dari kasus kebocoran Pusat Data Nasional (PDN), menteri yang menangani ini malah dapat penghargaan. Membaca berita tersebut, saya langsung ngakak sekaligus miris. Kok bisa? Ya, bisa. Namanya juga Jokowi.
Rupanya gaya Jokowi dilanjutkan oleh Prabowo. Bulan Agustus lalu ia juga memberikan penghargaan kepada beberapa orang yang sebagian menjadi pembicaraan publik, misalnya Haji Isam. Sebagian orang menganggap ini sebagai balas budi karena sang pengusaha merupakan salah satu orang di belakang Prabowo. Entahlah, saya tidak terlalu paham.
Nah, berkaca dari banyak kejanggalan-kejanggalan dalam pemberian penghargaan era Jokowi sampai Prabowo, saya jadi merasa hambar tiap pemerintah memberikan penghargaan, termasuk dalam penganugerahan pahlawan tahun ini.
Bahkan, saya berpikir, tidak banyak orang yang peduli dengan penganugerahan ini. Sebab, hal tersebut tidak berhubungan langsung dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Saya sendiri termasuk yang tidak peduli. Bahkan, tidak tahu siapa saja yang diangkat pahlawan pada tahun-tahun sebelumnya. Baru kali ini sedikit tahu karena ramai-ramai ada penolakan Soeharto.
Jadi, saya malas mau protes. Toh, sudah ditetapkan juga. Lagipula, nanti orang akan lupa seperti pada kejadian-kejadian viral sebelum-sebelumnya.
Jaddung, 14 November 2025

Komentar
Tinggalkan Komentar