Blog ini ditujukan untuk menampung tulisan-tulisan yang saya hasilkan secara instan. Sebagian sudah dimuat di akun Facebook saya dan sebagian lainnya tidak.

Saya menulis berbagai tema. Apa pun. Itu karena saya bukan pakar di suatu bidang tertentu. Saya menulis hanya sesuai keinginan dan lebih sering urusan remeh-temeh.

recent posts

Namanya Juga Orang Benci


Terkait kasus Trans7 vs Lirboyo, rasa-rasanya tidak ada yang perlu dijelaskan kepada orang non-pesantren.

Di media sosial, mereka memuntahkan segala dosa-dosa pesantren. Mereka menyinggung masalah perbudakan santri, feodalisme, kekerasan seksual, penyelewengan dana, dan semacamnya. Intinya, di mata mereka, pesantren adalah lembaga pendidikan yang penuh masalah. Mungkin mereka menginginkan pesantren lenyap. Entahlah.

Kepada mereka, rasa-rasanya tidak ada yang bisa sampaikan. Bukan karena kita tidak punya argumen, tapi segala argumen tidak akan pernah mempan. Mereka (tidak semua, tapi kebanyakan) memang alergi terhadap pesantren. Jadi, diberi pemahaman bagaimanapun, tetap tidak akan diterima.

Ketika ada santri yang bilang, cobalah mondok dulu kalau mau tahu bagaimana keadaan pesantren sebenarnya, mereka menganggapnya sebagai senjata orang kehabisan argumen. Padahal, sebetulnya ia adalah bukti bahwa terdapat banyak hal di pesantren yang tidak bisa dijelaskan alias harus mengalami langsung. Maaf, ini bukan masalah klenik atau gaib, tapi ini adalah berkaitan dengan nuansa. Pola relasi santri kiai hanya akan benar-benar dirasakan ketika mereka terlibat langsung. Mereka akan menemukan sendiri jawaban terhadap pertanyaan apakah santri itu betul-betul sebagai budak di pesantren? Apakah santri itu bisa disebut nguli di pesantren? Dan semacamnya.

Tapi, mereka memang benci. Alasan apa pun tak akan mempan. Mereka tidak pernah sadar bahwa pengetahuan mereka tentang pesantren hanya didapat dari berita-berita negatif berbagai media. Berita-berita itu berkembang makin memuncak dan membuat kian kokoh kebencian mereka terhadap pesantren.

Apakah saya menyanggah berita-berita negatif dari pesantren? Tidak. Penghuni pesantren itu bukan malaikat. Mereka manusia pada umumnya. Tentu ada kabar-kabar buruk juga dari pesantren, misalnya soal kekerasan seksual, pesantren roboh, dan lainnya. Kasus-kasus seperti itu harus diusut dan tidak boleh terjadi lagi di pesantren.

Karena itu, pesantren dari zaman ke zaman terus berbenah. Mereka tidak statis. Otokritik terus berjalan. Apa yang sebaiknya diperbaiki, akan terus diperbaiki.

Yang sering dilupa oleh pembenci pesantren adalah bahwa pesantren itu tidak tunggal. Mereka bukan lembaga hierarkis yang punya jalur dari atas ke bawah dan saling berkaitan. Pesantren di Indonesia ada ribuan. Masing-masing punya kurikulum, karakter, dan kehidupan yang sangat berbeda. Makanya, aneh ketika mereka bilang santri-santri itu suka ngesot kalau ketemu kiai. Seumur-umur, saya sebagai santri tidak pernah melihat santri ngesot di pondok saya. Mereka cukup berdiri menunduk saat ada pengasuh.

Jadi, kesalahan mereka seringkali melepaskan konteks ketika menyampaikan sesuatu tentang pesantren. Nah, ketika lepas konteks, maka arah tudingan mereka menjadi general. Kelakuan satu pondok kok digeneralisasi ke banyak pondok. Aneh jadinya.


Komentar

Tinggalkan Komentar