Masih tentang riuh perdebatan pesantren.
Jangan melihat pesantren dari kacamata Jakarta karena hasilnya akan bengkok. Keduanya punya kultur yang berbeda dan sulit untuk dipertemukan.
Jakarta hidup dengan individualitasnya yang tinggi, sementara pesantren, yang umumnya tumbuh di pelosok, hidup dengan keguyubannya.
Membangun rumah di Jakarta seringnya diserahkan ke kontraktor. Tidak dibantu oleh tetangga kanan-kiri. Sementara di desa, gotong-royong membangun rumah tetangga adalah hal yang lumrah.
Makanya, ketika ada santri yang ikut ngecor, orang Jakarta kaget karena tidak terbiasa dengan hal itu. Santri kok ikut ngecor, kata mereka. Padahal, dalam kehidupan di luar pesantren, santri juga melakukan hal yang sama, membantu tetangga yang sedang membangun rumah. Jadi, ketika mereka di pesantren, ngecor adalah hal biasa-biasa saja. Bahkan merasa aneh kalau itu dipermasalahkan.

Komentar
Tinggalkan Komentar